Rabu, 05 Januari 2011 | By: Catatan Fenti

Cerpen

JERUJI KEHIDUPAN
            Saat-saat yanga aku tunggu akhirnya tiba juga. Setelah melewati gerbang itu, maka hidupku akan berubah. Gerbang yang selama ini menutup segala kehidupanku dari dunia luar. Duni ayang selama 2 tahun telah kutinggalkan untuk menjalani hukuman di balik jeruji penjara yang selama ini mengurungku.
            Ya! Selama 2 tahun ini aku tinggal dalam jeruji penjara dengan beberapa teman yang senasib denganku. Sebagian dari mereka memiliki nasib yang tragis, tapi tidak terlalu tragis bila dibandingkan dengan kisahku. Seharusnya aku baru keluar satu tahun lagi, tapi karena mendapatkan potongan tahanan dari hari-hari besar dan perlakuan baikku selama dalam tahanan, aku dibebaskan lebih cepat dari hukuman yang dijatuhkan padaku. 
            Semua ini berawal saat aku menikah dengan laki-laki bajingan itu. Laki-laki yang telah menipuku dengan rayuan manis dan cintanya. Aku menikah dengan laki-laki yang aku pilih sendiri. Tapi cinta telah membutakan mataku, sehingga aku memilih laki-laki yang salah. Saat kuputuskan untuk menikah dengannya aku merasa beruntung mendapatkan jodoh yang baik. Banyak tetangga yang mamuji pengantin laki-laki dan juga suamiku sebagai laki-laki yang bertanggung jawab dan gagah. Kehidupan pernikahanku berjalan dengan baik hingga setahun kemudian lahirlah bayi perempuan dari rahimku. Dia cantik sekali.
            Sejak kelahiran anak kami suamiku sering pulang larut malam. “Untuk mencari penghasilan tambahan, dik” itulah yang selalu ia katakan saat kutanyakan perihal kepulangannya yang terlalu larut. Suatu hari dia memutuskan untuk menjadi TKI guna mencari pekerjaan. Sebagai seorang istri aku hanya melepas kepergiannya dengan kekhawatiran yang mengganggu. Kukira dengan begini, suamiku adalah laki-laki yang bertanggung jawab pada keluarganya. Pada awanya kiriman uang dari suamiku selalu kuterima setiap bulannya, tapi lama kelamaan kiriman uang yang kutereima tidak serutin biasanya.
            Akhirnya setelah bertahun-tahun hidup dengan kiriman uang yang tidak menentu, kuputuskan untuk berkerja guna mencari uang tambahan. Apalagi dengan kebutuhan anakku yang semakin membengkak. Aku tidak mau dia menjadi anak yang terlantar. Aku bekerja menjadi pembantu di salah satu rumah orang kaya di daerah tempat tinggalku. Karena tuntutan pekerjaan, aku menitipkan anakku pada tetangga yang mengetahui kondisi rumah tanggaku. Suamiku tidak pernah pulang, tak ada kabar darinya.
            Suatu hari saat aku pulang bekerja, aku melihat suamiku pulang ke rumah. Perasaanku sangat senang karena kukira dia akan membebaskan keluarga kami dari lembah penderitaan ini. Tapi aku begitu terkejut saat mengetahui dia datang dengan wanita lain. Lebih terkejut lagi saat dia mengatakan dengan seenaknya bahwa wanita itu adalah istri keduanya. Ternyata selama ini dia bersenang-senang di atas penderitaanku. Kontan saja amarahku memuncak, kesabaranku selama bertahun-tahun sudah mencapai batasnya. Dihadapanku sendiri dia berani bermesraan dengan wanita jalang itu. Tak kupedulikan tetangga yang akan mendengar pertengkaran kami.
Plak...! Segera saja layangkan tmparanku di pipinya. Kulihat wajahnya memerah dan amarahnya memuncak. Ia segera mengangkat tangannya hendak memukulku. “Apa....? Pukul saja kalau berani ! Nih pukul” kuhadapkan pipiku di depan wajahnya. Tangannya langsung turun dan mengepal, menandakan kalau ia sedang menahan amarah. “Mau kemana? Heh, mau lari dari tnggung jawab!” Aku menarik lengannya karena dia hendak pergi meninggalkan aku dan wanita itu. Kulihat wanita itu mundur ke belakang mencari perlindungan. Entah apa yang dipikirkannya.
“Nyesel aku nikah sama kamu mas! Laki-laki brengsek, nggak punya tanggung jawab. Bilang mau cari kerja di negeri orang, tapi pulang-pulang malah bawa perempuan. Kemana kamu selama ini mas? Kamu nggak tau gimana menderitanya aku harus menghidupi anak kita sendirian.” Kupukul dia dengan sekuat tenaga yang kumiliki, tapi apa daya ketika dia menjatuhkan tubuhku ke lantai dengan tangan-tangan kasarnya.
Dia pun pergi tanpa menoleh kearahku. “Kalau kau tidak teima, kita bisa cerai” hanya itu kalimat yang diucapkannya sebelum pergi. Kulihat wanita yang dibawa suamiku sedang bersembunyi di dapur, mungkin dia takut disangkut pautkan dengan pertengkaran kami. Tak kusangka kehidupan rumah tanggaku akan hancur, aku dimadu dengan wanita lain. Hal yang tak pernah ada dalam pikiranku.
Suamiku pergi dan tak tak pulang lagi sejak kejadian itu. Mungkin dia memberikanku waktu untuk menenangkan diri dan tak ingin bertengkar lagi dengaku. Dia meninggalkanku dengan wanita itu. Saat anakku bertanya siapa wanita itu, aku hanya mengatakan bahwa dia adalah ibu yang akan mengasuhnya selama aku bekerja. Mungkin hanya kata-kata itu yang dapat dicerna oleh anak usia 5 tahun sepertinya. Sepertinya wanita itu juga mengerti dengan kondisi keadaan kami yang serba tidak  mengenakkan, dan kurasa dia cukup mengerti dengan posisinya dalam keluarga ini. Kami tidak pernah saling menyapa, mungkin di ahanya keluar saat aku sedang bekerja. Aku dengar dari anakku kalau dia rajin membersihkan rumah dan mengurus segala keperluan anakku. Sepertinya anakku senang bersamanya, ia bisa memberikan kasih sayang seorang ibu yang kurang dapatkannya dariku.
Suatu hari aku memutuskan untuk berbicaa dengannya. “Nama kamu Lastri kan. Aku tau dari Anisa, putriku” segera aku membuka percakapan kami.
“Iya, mbak. Maaf sudah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mbak. Tapi mas pram bilang...”
Aku tersenyum sinis mendengar ucapannya itu, sungguh ucapan yang benar-benar polos. “ Dai bilang kalau dia belum berkeluarga kan? Sudah pasti dia menutupinya kalau dia ingin memperistrimu. Mana ada laki-laki yang ngaku kalau sudah punya keluarga pada wanita yang mau dinikahinya” ucapku sedikit ketus. “Kenal dimana sama mas Pram? Menikah dengan cinta atau...”
“Dipaksa orang tua” segera ia memotong perkataanku. Aku melihat kesedihan di raut wajahnya. “Saya dipaksa menikah dengan mas Pram karena hutang orang tua saya padanya. Bisa dibilang kalau saya dijadikan barang tebusan untuk hutang-hutang itu.” Kulihat air mata memenuhi kedua matanya, akau mencoba menghiburnya.
“Sungguh malang nasibmu Lastri, tapi kurasa kamu akan merasa sedikit bahagia disini. Aku akan menjagamu seperti adikku sendiri.”
“Makasih ya mbak, karena mbak malam itu tubuhku tidak terjamah sama mas Pram.” Aku terkejut dengan pernyataannya yang diucapkan Lastri. Ternyata dia berusaha menjaga kesuciannya hanya untuk pemuda yang dicintainya. Pemuda yang harus ditinggalkannya untuk memikul beban sebagai seorang anak perempuan daari keluarga tak mampu. Karena pemuda itu juga dia dapat bertahan dari keadaan ini. Lastri percaya bahwa suatu saat nanti pemuda itu akan membawanya pergi.
Sejak saat itu aku berbagi kesedihan dan kesenangan dengan Lastri. Kami bertiga hidup dalam keluarga kecil, aku, Lastri, dan anakku. Suamiku jarang pulang, kami sudah menganggapnya tidak ada dalam kehidupan kami. Aku selalu berusaha melindungi Lastri dari tangan-tangan kotor mas Pram, selalu ada cara untuk menjauhkannya dari perbuatan kotor mas Pram.
Aku tidak mau Lastri mengalami nasib yang sama sepertiku, setidaknya dia masih mempunyai seseorang yang mau mencintai dirinya dengan segala kekurangan yang dimilikinya. Aku tidak mau menghancurkan impian yang telah dibangunnya selama ini. Sudah cukup dia berkorban untuk kedua orang tuanya. Sebenarnya Lastri adalah wanita baik-baik, hanya nasibny saja yang kurang beruntung. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri.
Suatu hari saat aku pulang bekerja kudengan Lastri berteriak dari dalam rumah. Kontan saja aku langsung mempercepat langkahku untuk memasuki rumah. ternyata suamiku sedang mabuk dan dia hendak melucuti pakaian Lastri. Segera kuambil vas yang ada di dekatku untuk memukul kepalanya.
“Lepaskan dia mas, lepaskan !” kucoba menjauhkan tangan-tangan kotornya dari tubuh Lastri. Kudorong dia hingga terjatuh.
“Tolong mbak, dia ingin memperkosaku.”
“Memperkosa! Apa maksudmu dengan memperkosa hah! Kamu itu istriku, jdai sudah kewajibanmu melayaniku.” Dia mencoba bangun dengan sempoyongan karena sedang mabuk berat.
“Lastri itu bukan istri kamu. Kalian menikah bukan karena cinta, jadi pernikahan kalian tidak sah. Tenang, aku akan melindungimu Las. Dimana Anita?” Kucoba menenangkan Lastri yang terlihat panik dibelakangku.
“Sudah saya suruh diam di kamar dan jangan keluar-keluar sebelum saya panggil mbak.”
Tiba-tiba suamiku menarik Lastri dan memaksanya. Lastri menangis dan menjerit karena kesakitan. Akhirnya terjadi tarik menarik antara aku dan suamiku untuk memperebutkan Lastri. Kutarik Lastri dengan sekuat tenagaku, usahaku tidak sia-sia karena Lastri juga berusaha melepaskan diri dengan menendang suamiku. Langsung saja kutarik Lastri dan mneyuruhnya membawa Anita pergi dari rumah untuk mencari pertolongan.
“Lastri, cepat bawa Anita pergi. Kamu cari bantuan ya.”
“Tapi bagaimana dengan mbak?”
“Ngak papa Las, aku akan mencegahnya. Cepat, cepat pergi!”
“Iya, iya mbak. Anita, Anita, cepat keluar. Kita cari bantuan keluar.” Lastri keluar membawa anakku dengan buru-buru.
Suamiku berusaha mengejarnya. Sebelum sempat mengejar, aku berusaha menghentikannya dengan berbagai cara. Tanpa berpikir panjang segera kuambil pecahan vas yang berceceran di lanta dan kutancapkan diperutnya. Kulihat darah segar keluar dari perutnya. Suamiku merintih kesakitan, darah berceceran dimana-mana. “Ya tuhan, apa yang sudah kulakuakn? Aku sudah membunuh suamiku sendiri.” Kuraih dan kupegang tubuh suamiku yang sudah tergeletak bersimbah darah di lantai rumah kami. Entah kesedihan atau kesenangan yang aku rasakan. Saat itu yang kuketahui tiba-tiba Lastri sudah ada di depan rumah dengan membawa para warga dan menggendong Anita yang menangis.
Sejak kejadian itu, kehidupanku berubah menjadi penghuni tahanan di salah satu penjara yang ada di daerah tempat tinggalku. Mungkin ini jauh lebih baik. Selama menjalani masa tahananku, Anita diasuh oleh Lastri, katanya sebagai ucapan terima kasih atas pengorbanan yang telah kulakukan untuknya. Aku tidak perlu khawatir akan kehidupan mereka, kerena  bulan setelah kejadian itu Lastri menikah dengan pemuda yang dicintainya. Sesekali mereka mengunjungiku, aku tidak pernah merasa kekurangan walau tinggal dalam penjara. Anakku juga sepertinya tidak malu mempeunyai ibu seorang nerapidana sepertiku. Kurasa Lastri telah mendidiknya dengan baik.
“Ibu.. ibu..” kudengar teriakan dari seorang gadis kecil yang berlari-lari, dibelakangnya kulihat Lastri sedang menggendong anaknya yang baru berusia 8 bulan. Buah pernikahannya dengan pemuda yang telah memberikan kebahagiaan dalam hidupannya. Segera kupeluk dan kugendong anakku dengan segala kasih sayang yang kumiliki.
“Kita pulang ya, mbak. Mbak bisa tingganbersama kami, kita akan menjadi keluarga yang bahagia.” Itulah kata-kata yang diucapkan Lastri saat menjemputku. Tak kusangka dia mau menerima aku dan Anisa untuk menjadi bagian dari keluarga kecil yang telah dibangunnya. Sejak saat itu kehidupanku-pun terbebas dari segala jeruji-jeruji kehidupan dunia.

0 komentar:

Posting Komentar